1. Memproduksi minyak secara alami
[Image: j9x0rs.jpg]
Ada proses bernama thermo-depolymeriza tion, suatu proses yang sama dengan bagaimana alam memproduksi minyak. Misalnya limbah berbasis karbon jika dipanaskan dan diberi tekanan tepat, mampu menghasilkan bahan minyak. Secara alamiah proses ini menbutuhkan waktu jutaan tahun. Dari eksperimen yang sudah-sudah, kotoran ayam kalkun mampu memproduksi sekitar 600 pon petroleum.

2. Menghilangkan garam dari air laut
[Image: 2ylp7pu.jpg]
PBB mencatat, suplai air bersih akan sangat terbatas bagi miliaran manusia
pada pertengahan abad ini. Ada teknologi bernama desalinasi, yakni
menghilangkan kadar garam dan mineral dari air laut sehingga layak diminum. Ini merupakan solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah krisis air. Masalahnya, teknologi ini masih terlalu mahal dan membutuhkan energi cukup besar. Kini para ilmuwan tengah mencari jalan agar desalinasi dapat
berlangsung dengan energi lebih sedikit. Salah satu caranya adalah dengan
melakukan evaporasi pada air sebelum masuk ke membran dengan pori-pori
mikroskopis.

3. Tenaga Hidrogen
[Image: 2whkswg.jpg]
Bahan bakar hidrogen dianggap sebagai bahan bakar alternatif bebas polusi.
Energi dihasilkan dari perpaduan antara hidrogen dan oksigen. Problemnya
adalah bagaimana hidrogen itu dihasilkan. Molekul seperti air dan alkohol
harus diproses dulu untuk mengekstaksi hidrogen sehingga menjadi sel bahan

bakar. Proses ini juga membutuhkan energi besar. Namun setidaknya ilmuwan sudah mencoba membuat laptop serta peranti lain dengan tenaga fuel cell.

4. Tenaga surya
[Image: 24ysp6x.jpg]
Energi surya yang sampai di bumi terbentuk dari photon, dapat dikonversikan menjadi listrik atau panas. Beberapa perusahaan dan perumahan sudah berhasil menggunakan aplikasi ini. Mereka memakai sel surya dan termal surya lain sebagai media pengumpul energi.

5. Konversi Panas Laut
[Image: zsk5eh.jpg]
Media pengumpul tenaga surya terbesar di bumi ini adalah air laut.
Departemen Energi Amerika Serikat (AS) menyebut, laut mampu menyerap panas surya setara dengan energi yang dihasilkan 250 miliar barel minyal per
hari. Ada teknologi bernama OTEC yang mampu mengkonversikan energi termal laut menjadi listrik. Perbedaan suhu antar permukaan laut mampu menjalankan turbin dan menggerakan generator. Masalahnya, teknologi ini masih kurang efisien.

6. Energi gelombang laut

[Image: 24ybcdx.jpg]

Laut melingkupi 70 persen permukaan bumi. Gelombangnya menyimpan energi besar yang dapat menggerakkan turbin-turbin sehingga mengasilkan listrik. Problemnya agak sulit memperkirakan kapan gelombang laut cukup besar sehingga memproduksi energi yang cukup. Solusinya adalah dengan menyimpan sebagian energi ketika gelombang cukup besar. Sungai Timur kota New York saat ini sedang menjadi proyek percobaan dengan enam turbin bertenaga gelombang air. Sedangkan Portugis justru sudah lebih dulu mempraktikan teknologi ini dan sukses menerangi lebih dari 1500 rumah.

7. Menanami atap rumah
[Image: 2isehrr.jpg]
Konsep ini diilhami dari Taman Gantung Babilonia yang masuk dalam daftar
Tujuh Keajaiban Dunia. Istana Babilonia terdiri atas atap yang ditanami
aneka flora, juga balkon dan terasnya. Taman atap ini mampu menyerap panas dan mengurangi karbon dioksida. Bayangkan jika burung-burung dan kupu-kupu berterbangan di sekitar rumah hijau kita.

8. Bioremediasi
[Image: 23rn914.jpg]
Ada proses bernama bioremediasi, yakni memanfaatkan mikroba dan tanaman untuk membersihkan kontaminasi. Salah satunya adalah membersihkan kandungan nitrat dalam air dengan bantuan mikroba. Atau memakai tanaman untuk menetralisir arsenik dari tanah. Beberapa tumbuhan asli ternyata punya daedah untuk membersihkan bumi kita dari aneka polusi.

9. Kubur barang-barang perusak

[Image: 5cj0hs.jpg]
Karbon dioksida adalah faktor utama penyebab pemanasan global. Energy
Information Administration (EIA) mencatat, tahun 2030 emisi karbon dioksida mencapai 8000 juta metrik ton. Metode paling sederhana untuk menekan kandungan zat berbahaya itu adalah dengan menguburkan berbagai sumber penghasil CO2 seperti aneka limbah elektronik berbahaya. Namun ilmuwan masih belum yakin bahwa gas berbahaya akan tersimpan aman. Tetap saja kelak akan muncul imbas negatifnya bagi lingkungan.

10. Buku elektronik
[Image: 15dxueo.jpg]

Bayangkan, berapa ton kertas dan berapa banyak pohon harus ditebang bagi
seantero dunia jika kita semua harus membeli koran, majalah, novel, buku
pelajaran, buku tulis, kertas faks, sampai tisu toilet. Buku elektronik
atau surat elektronik yang lebih dikenal dengan e-book dan email memberi
kontribusi sangat berarti pada kelangsungan hidup. Dengan teknologi itu,
produksi kertas dapat ditekan, sehingga bahan kita tak perlu menebang
terlalu banyak pohon.