Bagi bayi yang minum susu formula, peranan si botol susu beserta dot-nya tentu sangat besar. Berilah botol susu dan dot yang sesuai dengan kebutuhan buah hati Anda.

Nah, agar Moms tak bingung memilih, hal-hal di bawah ini bisa dijadikan bahan pertimbangan! Berikut ulasan dr Rusmala Deviani SpA, dari RS Setia Mitra, Jakarta Selatan.

Sesuaikan ukurannya

Di pasaran terdapat berbagai ukuran botol, yang biasanya menyatu dengan dot. Botol kecil berukuran 30-50 ml, botol sedang berukuran 120 ml dan ukuran besar di atas 200 ml. Sesuaikan botol dengan banyaknya kebutuhan asupan susu si kecil setiap harinya.

Aman bagi kesehatan

Botol yang terbuat dari bahan gelas lebih awet, tahan lama dan proses sterilisasinya mudah. Hanya saja, botol ini cukup berat hingga kurang nyaman digunakan dan mudah pecah. Berbeda dengan botol plastik, botol ini lebih tahan lama. Bayi pun aman memegang botolnya sendiri.

Hindari botol dengan banyak gambar

Sebab, gambar-gambar itu berisiko terkelupas saat disterilisasi dalam air mendidih. Sedangkan botol dengan aksesori, seperti kepala boneka atau mainan boleh saja dijadikan pilihan, selama tak menyulitkan proses sterilisasi atau pemberian susu kepada bayi.

Memiliki regulator antisedak

Untuk bayi berusia 0-3 bulan, dapat menggunakan botol susu yang dilengkapi dengan regulator. Regulator merupakan alat yang berfungsi untuk mengatur aliran susu sesuai dengan irama isapan bayi. Dengan menggunakan regulator maka susu dari botol susu tidak akan mengalir bila tidak dihisap sehingga susu tidak mudah tumpah dan hal ini menghindari bayi tersedak. Dengan regulator maka dapat dihindari dot mengempis secara tiba-tiba dan terhisapnya udara oleh bayi yang dapat membuat bayi menjadi kembung. Sekat ini juga berguna untuk menahan aliran susu jika botol miring/terbalik. Jadi, saat bepergian di mana kita sering menyimpan botol dalam tas, tak ada kekhawatiran lagi air susu akan tumpah.

Botol susu dengan pegangan

Botol susu jenis ini diperuntukkan bagi bayi usia 6 bulan ke atas. Pada masa tersebut, berilah kesempatan pada si kecil untuk memegang botolnya sendiri. Dengan begitu, selain menikmati susu, kemampuan motoriknya juga akan terlatih.

Ukuran dot

Ukuran dot umumnya disesuaikan dengan ukuran mulut bayi. Untuk bayi kecil, berikan dot berukuran kecil dengan lubang yang kecil pula. Demikian juga dengan bayi yang memiliki tubuh sedang dan besar. Ukuran dot yang tidak sesuai bisa membuat bayi tersedak dan mengganggu pernapasan. Misal, bayi kecil diberi dot besar. Atau, bayi besar diberi dot kecil, maka dia akan cepat lelah karena kemampuan isapnya sangat kuat sementara volume air susu yang keluar amat sedikit.

Silikon atau Lateks?

Saat ini terdapat dua bahan dot yang banyak dijual di pasaran, yaitu silikon (umumnya berwarna putih) dan lateks (berwarna kuning). Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dot karet lebih lentur dan lembut tapi umumnya mudah rusak. Dot karet juga mudah berjamur dan menimbulkan bau. Sebaliknya, silikon kurang lembek tapi awet dan tahan lama.
Nah, untuk memilih dot dengan bahan yang mana, kenali dulu refleks isap si kecil. Bila kemampuan mengisapnya cukup kuat, dot silikon bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, jika refleks isapnya lemah, pilihlah dot karet. Yang pasti, jangan pilih dot dari bahan yang tidak fleksibel dan mudah rusak.