Awalnya gedung ini tidak dipersiapkan sebagai gedung parlemen Negara, tetapi dibangun sebagai gedung pertemuan Conefo, badan dunia tandingan Perserikatan Bangsa-bangsa. Uniknya, kubah gedung yang laksana kepakan sayap burung itu ditemukan secara kebetulan, seperti laporan wartawan Intisari Anglingsari Saptono dan G. Sujayanto menyambut Hari Parlemen 16 Oktober

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia Gedung MPR/DPR dikenal karena bentuk atapnya yang unik. Meski di kompleks ini banyak terdapat bangunan pendukung lain, tetap saja gedung utama dengan atap kubahlah yang lebih dikenal. Anehnya, kubah raksasa itu tidak disangga pilar-pilar atau dinding, tapi oleh dua busur pada bagian tengahnya, sehingga menyerupai kepakan sayap burung.

Di bawah atap inilah sebenarnya sebagian besar nasib bangsa Indonesia ditentukan. Simak saja, tiap lima tahun Sidang Umum MPR digelar untuk menetapkan GBHN. Seandainya bisa berbicara, atap dan dinding tentu akan bercerita pahit manis kisah perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia.

Modal awal, jual mobil

Siapa sangka gedung penyangga pilar-pilar demokrasi ini dulu dibangun untuk tempat dilangsungkannya Conference of The New Emerging Forces (Conefo), sebuah badan tandingan PBB. Bung Karno sebagai pencetus ide, berkeinginan bangunan ini kelak lebih megah daripada gedung PBB di New York, AS.

Prakarsa itu segera dijawab dengan diadakannya sayembara terbatas prarancangan. Presiden menghimbau supaya pengikutnya bukan dari dari kelompok yang sudah dikenal sebelumnya, semisal pakar teknik ternama Roosseno atau arsitek kondang Friedrich Silaban, tetapi berasal dari generasi baru.

Bagai tunas disiram air muncul kelompok baru, tenaga muda yang inovatif, diantaranya kelompok Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo. Keikutsertaan kelompok ini tak lepas dari peran serta Menteri PUTL D. Suprayogi yang mengusulkan Soejoedi dan rekan-rekannya berpartisipasi di saat akhir menjelang penutupan. “Usulan mendadak dari Pak Suprayogi ini membuat kami bekerja terburu-buru. Bayangkan, dalam waktu dua minggu gambar-gambar dan maket harus sudah siap,” ungkap Ir. Nurpontjo, salah seorang tenaga yang direkrut mendadak oleh Soejoedi. “Saat itu kami tidak memikirkan imbalan. Pak Soejoedi sendiri sampai menjual mobil untuk menutup biayanya dulu,” kenang alumnus ITB yang sempat menjadi asisten Soejoedi bersama-sama Ir. Utomo Brodjonagoro.

Waktu dua minggu untuk merampungkan gambar dan segenap tetek bengeknya, terasa makin sempit saja. Mulanya, bentuk gedung dengan atap kubah yang menjadi pilihan. Namun, membuat maket berbentuk kubah bukan hal yang gampang. Dalam beberapa kali pengecoran, kubah pecah atau retak.

Ditemukan bukan diciptakan

Berbagai usaha untuk mendapatkan bentuk kubah yang benar diupayakan. Nurpontjo yang saat itu baru lulus setahun dari ITB, mencoba menggergaji dan memotong cetakan yang berasal dari kuali untuk serabi menjadi dua bagian. Maksudnya, untuk menghasilkan bentuk kubah yang tak retak. Namun, ketika Soejoedi melihatnya, malah timbul ide baru. Dua potongan kubah direka-reka menjadi seperti busur. “Wah bagus ini! Saya akan tanyakan pada Pak Sutami sebagai pelaksana teknisnya, apakah bentuk seperti ini bisa terealisasi!” ujar Soejoedi yang juga dikenal sebagai arsitek Gedung ASEAN dan kedutaan besar kita di Kuala Lumpur.

Menurut Sutami, rancangan yang diusulkan oleh Soejoedi dan kawan-kawan itu bisa diwujudkan dan cukup kuat. “Jadi, bentuk atap yang seperti sayap garuda itu tidak diciptakan, tetapi ditemukan secara tidak sengaja,” kata Nurpontjo lagi.

Soejoedi menang dalam komposisi massa. Artinya, antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lain bentuknya serasi. Bung Karno menilai rancangan kelompok Soejoedi memiliki beberapa keunggulan. Antara lain, bentuknya inovatif dan untuk kondisi saat itu, bangunan itu bisa dibanggakan di forum internasional.

Dalam kesempatan itu Bung Karno segera menanyakan kesanggupan Sutami, sebagai pelaksana teknis untuk merampungkan seluruh bangunan dalam satu tahun. Tantangan ini dijawab dengan kesediaan Sutami. Kesanggupan itu bukan tanpa alas an.Pengalamannya segudang dalam pekerjaan proyek borongan, ditambah belasan tahun memimpin Perusahaan Negara “Hutama Karya” mendasari kesanggupannya.

Dalam pengerjaannya, gedung ini menghendaki persyaratan khusus seperti adanya ruangan kedap suara, jaminan keamanan dan alat penerjemah. Para arsiteknya berkeinginan menjadikan ruang sidang utama menjadi titik sentral perhatian. Tanpa bermaksud meninggalkan ruang secretariat, banquet hall dan auditorium. Yang jelas, gedung ini berbeda dengan Gedung PBB yang lebih menonjolkan gedung sekretariat jenderalnya. Pada awalnya Gedung Conefo direncanakan berkapasitas 100 negara, tapi akhirnya diputuskan hanya 70 negara